Archive for January, 2008

aku kirain coklat, gak taunya diklat, perutku jadi kacau berat!

Saturday, January 26th, 2008

jumpa lagi
jumpa maissy disini
hai-hai semua…

ternyata selama diklat setiap sabtu n ahad kita boleh keluar wisma. diklat? ini nih pengalaman gw setelah seminggu menjalaninya, ada enaknya, gak enaknya jg banyak.
yang bikin maknyuss:
1. asrama n kamarnya cukup nyaman, kita sekamar empat orang, tiap2 kamar ada AC dan kamar mandi, tiap lantai ada satu tipi yang letaknya di ruang yg luas sbg tempat ngumpul2 (ruang apa sih namanya, lobi?)
2. makan tiga kali sehari,dilayani ketering, prasmanan,  menunya pasti bikin mahasiswa stan ngiler (hehehe…), tiap makan pasti ada dagingnya, pokoknya lumayan enak
3. ada snek (coffe break) 2x sehari, pagi dan sore, disela2 jadwal kuliah. yang ini, delicioso…
4. kesimpulannya, selama diklat, makan dan kosan(bagi yang kos), gratiss!

Tapi, orang bijak berkata bayarlah pajak…
orang bijak berkata di balik kemudahan pasti ada kesusahan(kebalik ya?)
selain yang enak2, ada juga gak enaknya:
1. kalo mo keluar wisma selama hari kuliah repot, ada perizinan yang harus diurus
2. jadwal kuliah full bgt, dari pagi sampai malam
3. pola makan malam jadi berubah. kita bubar jam stgh 6, jam 7 ada kuliah lg. karena harus selalu makan bareng, kita makan malamnya ya diantara jam tsb, sblm solat magrib. padahal jam segitu mah belum pada lapar.
4. peserta rentan terhadap kegendutan dan kebuncitan (bahasa opo iki) karena kerjaannya cuma belajar-makan-tidur, belajar-makan-tidur (belajar makan sambil tidur? emang bisa?). kita kurang olahraga karena jadwal yg padat.
5. dan yang paling menyebalkan(menurut hampir semua anak2) adalah adanya dua orang tentara dari Rindam Jaya (resimen ifanteri kodam jaya) yang menjadi kepala wisma selama 10 hari pertama diklat.kita semua dibikin kayak militer. setiap pagi hbs subuh ada senam pagi, setiap hari ada apel pagi dan malam, setiap makan harus bareng di kelas ato auditorium dgn tatacara militer, gak boleh makan duluan,ada yang mimpin doa, ucapin "selamat makan" (kayak nobita), makan cepet2 n gak bolah ribut. harus hormat (dalam artian hormat mengangkat tangan nempel ke dahi) ke setiap orang lain yg ditemui, keluar asrama harus pakai pakaian seragam putih itam,dll… tapi hal diatas cuma nyampe diklat ke-BPK-an, untung gak nyampe diklat auditor terampil yang 27 hari.
tp belakangan gw malah mulai menikmati semua kedisiplinan itu, kecuali yang harus hormat ke setiap orang, malu2in aja. menurut gw, semuanya kalau dijalanin dg senang hati, asik-asik aja kok, n pasti ada manfaatnya.
tetap semangat teman2 koe!

salam perpisahan

Thursday, January 17th, 2008

sebenarnya berat buat aku untuk mengatakannya

tapi, tetap harus terucap

mungkin dalam beberapa minggu ke depan

kebersamaan kita akan terputus sementara

karena aku harus pergi untuk kembali

aku harus menjalani diklat selama 40 hari di pusdiklat kalibata

mulai senin 21 jan besok

disana mungkin aku gak lagi duduk di depan komputer tiap hari

atau mungkin saja gak pernah ngenet lagi

tapi aku akan tetap berusaha beredar di dunia maya

walaupun tidak sesering sekarang

jadi kalian para penggemarku

tetaplah terus menjalani hidup walaupun tanpa aku

jangan ada yang sedih, menangis

putus asa, apalalagi sampai bunuh diri

jangan…pliss…jangan!

tetaplah disana menunggu aku kembali

dan tak lupa buat teman-temanku

salam dariku untuk cewek-cewek kalian

wawancara ekslusif

Thursday, January 17th, 2008

Liputan Khusus                                                       fotongawur.net

Franz Kurnia ‘oz’:

Gila (beneran) karena Fotografi

Siapa sih yang gak tau sama nama di atas? Pasti semua pembaca menjawab,"Saya..!". Ya, fotografer yang bernama lengkap Franz Kurnia Putra , ataw yang lebih dikenal dengan panggilan ‘oz’ ini sudah lama malang melintang di dunia fotografi. Malang terus, gak pernah untung. Foto-fotonya sudah banyak bertebaran di mana-mana (kayak sampah donk!). Pada suatu hari yang mendung, kami mendapat kehormatan untuk bertemu dan berdialog langsung dengan Beliau.

-Bagaimana ceritanya anda bisa terjun ke dunia fotografi?

Wah.., saya gak terjun mas, saya takut ketinggian, jadi saya turun lewat tangga aja…

-Maksud saya, bagaimana awalnya anda tertarik sama fotografi?

Oo gitu, nanyanya yang jelas donk. Saya baru terlibat aktif sekitar satu tahun yang lalu. Tapi sebenarnya dari kecil saya sudah senang liat foto-foto yang bagus, misalnya foto pemandangan di kalender, foto-foto di buku, majalah dan koran. Apalagi kalo fotonya mengkilap dan berwarna.

-Termasuk foto-foto di majalah anak laki-laki bermain (in english) dan majalah yang namanya disilang 3 kali itu? Kalo Bapak saya punya banyak lho mas, biasanya disimpan di kolong tempat tidur.

No comment! (kok malah jadi elu yang curhat?)

-Terus pertama serius di fotografi gimana ceritanya?

Begini ceritanya…Saya mulai mendalami fotografi tepatnya sejak kuliah tahun ke tiga di sebuah sekolah tinggi berakreditasi gak jelas di bilangan Bintaro. Waktu itu ada open recruitment anggota baru club fotografi di kampus, namanya SOFAM. Saya diajak daftar sama dua orang temen sekosan. Ya.., setelah itu ternyata minatnya sama fotografi keterusan sampai sekarang. Malah temen saya yang ngajak itu sekarang udah jarang aktif. Oiya, waktu mendaftar, saya sebenarnya dalam keadaan gak sadar loh. Tau-tau nama saya udah tercantum di kertas pendaftaran. Lagian waktu itu saya juga nyium aroma kembang dan menyan di sekitar area pendaftaran.

-Terus, bagaimana jepretan pertama anda?

Di SOFAM, kita anak-anak baru dikenalkan sama kamera, khususnya kamera SLR, terus ada diklat-diklat tentang fotografi. Kalo gak salah diklatnya sebanyak empat kali, setiap sabtu dan minggu. Setelah mendapat bekal ilmu dari diklat, kita lalu hunting pertama. Dalam hunting itulah saya pertama kali take picture pake kamera SLR. Saya kebagian hunting di Monas, bareng empat temen lainnya dan seorang mentor (namanya gak usah disebutkan ya, ntar pada ge-er lagi). Saya pake kamera Ricoh, lensa 50mm, gantian sama seorang temen. Kameranya itu kamera pinjaman dari SOFAM, karena kita anak-anak baru belum punya kamera sendiri.

Saat jepretin pertama, perasaannya grogi, karena takut salah. Biasa, namanya juga pertama kali. Lagian kameranya gak ada lightmeternya, jadi dalam ngukur cahaya kita cuma pake filling dan berpedoman pada tabel metering yang ada pada box film. Kita pake film hitam putih.

-Hasil hunting pertama anda gimana?

Film hasil hunting pertama itu dicuci beberapa hari kemudian. Nyucinya sendiri, setelah diajari sama anak lama SOFAM. Kita nyucinya di kamar gelap berpasangan 2orang, tapi cowok sama cowok. Maunya sih cowok sama cewek, hehehe…Ternyata Hasil hunting pertama saya itu overexposure semua. Untungnya ada beberapa yang masih bisa dipake. Foto-foto hunting anak baru kemudian dipamerkan di kanopi kampus. Seneng banged rasanya foto kita dilihat dan mendapat apresiasi orang.

-Kamera yang anda pakai sekarang apa?

Saya pake Pentax P30T analog, lensa fix SMC 50mm f/1,8. Belinya di pasar baru waktu bulan puasa. Waktu beli sampai bolak -balik 3 kali karena rusak. Maklum, namanya juga kamera seken. Alhamdulillah dapat lensanya lumayan tajam.

-teknologi digital dewasa ini kan semakin berkembang, kenapa anda masih setia pakai kamera analog?

mmm..ini sebenarnya soal prinsip. Pakai digital itu bikin manja. Gak ada tantangannya. Kalo salah bisa dihapus ato di-retouch di photoshop.(sebenarnya gak usah nanya elu jg dah tau, gw gak punya duit aja buat beli digital, nanya yang aneh-aneh lagi gw jitak juga lu)

-Bagaimana apresiasi masyarakat terhadap karya anda?

Saya merasa bangga atas sambutan masyarakat terhadap karya saya. Foto saya gak hanya dinikmati oleh kalangan fotografer, tapi juga oleh masyarakat kecil. Bahkan saya pernah liat foto saya dipajang di tempat sampah seorang warga.

-Bagaimana anda menanggapi perkembangan fotografi sekarang?

Saya lihat dunia fotografi sekarang berkembang sangat pesat. Apalagi setelah Susi Susanti mendapat emas di Olimpiade, Cris john yang menjadi juara dunia kelas bulu, dan Fernando Torres yang bergabung ke Liverpool menambah daya serang. Benar-benar dahsyat.

-(ini ngomongin fotografi ataw olahraga?) Sebagai fotografer yang udah banyak makan asam cuka, ada tips buat fotografer muda?

Membuat foto yang bagus sebenarnya tidak begitu sulit. Tapi kebanyakan fotografer sekarang, apalagi yang muda-muda kurang memperhatikan hal-hal kecil yang sebenarnya berpengaruh besar terhadap foto yang dihasilkan. Misalnya seorang fotografer itu kalo bangun tidur harus mandi, tidak lupa menggosok gigi, lalu membantu ibu membersihkan tempat tidur. Jangan hanya memperhatikan masalah teknis fotografi.

Oiya, pesannya yang lain, buat mama di rumah, i luv yu, aku sekarang udah gak ngompol lagi, buat papa jg, keluarga, teman-teman, dukung aku ya, ketik SMS (spasi) EDAN, kirim ke tetangga, jangan lupa ya!

Sayang sekali, waktu tak mengizinkan kami untuk menimba ilmu lebih dalam dari beliau. Kami kembali ke kantor setelah matahari berubah merah, dengan pikiran yang kacau!

once upon a time in sunda kelapa

Monday, January 14th, 2008

inisiatif untuk hunting pada hari sabtu 12 jan disambut positif anak-anak. kita jadi kelompok yang hunting pertama dan satu2nya dalam minggu ini.yang ikut ada lima orang, tiga orang anak baru-yudha, febi, dan rudi, serta dua orang LO (kepanjangannya, mm…gak tau)yakni gw n rahma. sebenarnya kelompok gw ada 2 orang lagi, yaitu esti dan eci (bukan edi, apalagi charlie), tapi via jarkom mereka katanya gak bisa ikut.hiks, kecewa jg, jadi kurang rame. tapi hunting must go on.dan tujuan kita adalah…jreng-jreng…sunda kelapa.

kita kumpul jam 9 di gerbang warung jengkol, berangkat naik angkot jam stgh 10 ke rel, nyambung metro 71 ke blok M. terus naik baswae ke kota. mengingat keadaan ekonomi negara ini yang lagi krisis, yang tentunya jg berimbas pada keadaan finansial kita, akhirnya kita putuskan untuk melanjutkan perjalanan ke sunda kelapa dengan berjalan kaki. dalam perjalanan, qt melewati kota tua. sempet poto2 jg disana. ada jg potografer lain yang hunting, dengan kamera yang harganya setara motor. gw tampil sebagai guide, coz sebelumnya udah pernah k sana. tapi ternyata pilihan mereka mengangkat gw sebagai pemandu salah. kita akhirnya nyasar jg. bertanya ke seorang bapak "buat apa berlapar-lapar puasa?"(halah, kok jadi bimbo). bukan. nanyanya ya tentang sunda kelapa, dimana dan siapa pendirinya(?).

jawabnya simpel ,"di sebelah sana dek!"

yaelah, tadi kita udah deket ke sana, kenapa jadinya malah muter? gw langsung mimpin rombongan lagi menuju arah yang ditunjuk si bapak. oiya, waktu tuh gw lupa ngucap terima kaci sama bapaknya. makasi pak!moga bapak jg komunitas bloger di FS n baca blog gw, jadi trims-nya kesampean.

akhirnya dengan bercucuran keringat dan air mata (n_n) kita nyampe jg di sunda kelapa. azan zuhur udah berlalu sekitar setengah jam. qt langsung menuju musolla. abis solat, makan siang, trus istirahat bentar, nungguin cuaca agak redup. gak lama, kita mulai bergerak hunting. tapi ternyata matahari masih terik. gw jadi males. yauda, gw balik k musola buwat ngadem, yang lain pada sibuk jepret sana-sini.

azan ashar. gw solat dulu. habis solat, pasukan gw dateng k musola. pastinya mo solat jg. selesai semua solat, kita bergerak lagi. mpoto sunda kelapa yang kebetulan lagi rame. ada banyak kapal yang lagi bongkar-muat barang.

sekitar pukul 5 sore, pelem kita udah pada habis dijepretin. dan….

bencana dimulai.

febi, pelemnya putus, karena waktu ngegulung dia lupa mencet tombol bawah kamera. jadinya gulungannya gak muter, n kayaknya diputer paksa sama febi. yah putus (lagi cintaku..). rahma yang bareng febi jg lupa ngingetin. trus penutup belakang kamera juga sempat dibuka, jadi pelemnya yang belum kegulung kayaknya udah kebakar.

bencana kedua, yudha yang pake kamera argi, dari awal pelemnya ternyata gak ngegulung. baru ketauannya pas indikator udah nyampe angka 36, kok masih bisa dikokang. jadi yang tadi dia kokang dan jepret, gak ada artinya, karena pelemnya gak kegulung. gw jadi merasa bersalah jg, secara yang masang pelemnya gw. tadinya ada masalah pada kameranya, putarannya nempel. tp gw gak nyadar. pokok e teknis banged dah. sori ya..

pulangnya kita naik angkot 2x sampe halte buswae kota. naik baswae lagi ampe blok M. trus solat magrib dulu d blok M. k kampus naik metro 71 dan angkot k ceger.di angkot berisik banget. anak2 baru ternyata berbakat jadi pelawak.ceria,kyk lagunya J-ROCK. kita nyampe kosan sekitar jam stgh 9 malem.

sunda kelapa, never ending adventures…

U.P.A.L

Monday, January 7th, 2008

lagi seru-serunya nangkringin naruto…

"dasar orang sialan, gw dikasih kembalian duit palsu!" sodara gw menggerutu sembari ngeliatin selembar duit lima ribuan ke gw.

Gw sontak kaget

"masak sih..?"

gw perhatiin tuh duit. penampilannya agak aneh. warnanya luntur, sampai2 ekspresi tuanku imam bonjol berubah genit, karena keliatan kayak pake gincu di pipi dan bibirnya. Untung mata tuanku gak ikutan kedip-kedip.

"Ukurannya lebih kecil kan? trus tanda airnya gak ada", lanjutnya sambil nungging-nungging nempelin lima ribuan itu ke layar tipi. Pandangan gw langsung berubah gak enak, kehalang bokongnya sodara gw. Sadar posisi gw dalam keadaan bahaya, gw langsung berdiri dan berpindah ke samping, sebagai antisipasi kalo-kalo terjadi reaksi fusi antara senyawa H2S dengan udara bebas (baca:kentut)

sodara gw masih serius meneliti duit sialannya di depan layar tipi. layar tipi yang terang membiaskan cahaya melalui serat-serat kertas. Gw ikut mengamati. qt berdua udah kayak detektif yang mencari sidik jari pelaku kriminal. Bener, ternyata duit itu gak ada tanda airnya, yang biasanya berupa siluet kepala pahlawan nasional.

Gw lalu ngeluarin duit lima ribuan lain, yang kebetulan lagi ada di saku celana gw, trus gw bandingin sama duit yang tadi.

"iya ya, ukurannya lebih kecil… untung cuma goceng, coba kalo duitnya gede, kan ruginya jadi banyak!", sahut gw menutup percakapan.

gw lanjutin nontong naruto di tipi (gak mungkin di layar tancap kan?)

{}{}{}{}{}{}{}{}{}{}{}{}{}{}{}{}{}{}{}{}{}{}{}{}{}{}{}{}{}{}{}{}{}{}{}{}{}{}{}

mm… keren ya negara ini. semua kayaknya udah ada barang palsunya. mulai dari beras, elektronik, software, apalagi duit. yang gw gak habis pikir, duit lima ribuan juga ada yang palsunya. biasanya kan yang dipalsuin itu duit yang nominalnya gede, 20 ribuan, 50 ribuan, ato 100 ribuan. tapi sekarang gw nemu ada duit lima ribuan palsu. Apa si pemalsu gak rugi ya?kan lebih untung kalo dia bikin upal (uang palsu) dengan nominal gede sekalian?

gw jadi mikir. engsel2 otak gw berdenyit karena jarang dipake, jadinya udah karatan. Beberapa serpihan karat jatuh melalui lobang telinga gw (hiperbola banged!). menurut gw mungkin itulah kepintaran si pembuat upal. mereka tahu bahwa orang-orang berpikiran upal itu bernominal gede. jadi kalo memproduksi upal dengan nominal kecil tidak akan dicurigai.

ck…ck…ck…boleh juga ya mereka (si pemalsu: "terima kasih atas pujiannya!")

jadi saudarakoe sebangsa dan setanah air, hikayat diatas bisa jadi pelajaran buwat kitorang, agar lebih teliti dan hati-hati dalam bertransaksi. Kalo terima duit, ingat 3 D, Dikuras bak mandi, Ditutup tempat penampungan air, Dikubur barang-barang bekas. hwehehe…